Aksesoris & Part Performance Yamaha Byson
Senin, Februari 28, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Sejumlah komponen aftermarket buat Yamaha Byson kini mulai marak di lantai bursa aksesoris. Mulai dari part bodi add on, komponen aftermarket, komponen optional, komponen kaki-kaki hingga komponen pendongkrak performa dapur pacu.

Semuanya bersifat Plug n’ Play (PnP) atau tinggal pasang tanpa perlu ubahan berarti.

Yup, semua komponen yang beredar memang dikhususkan buat Yamaha Byson. Alhasil tinggal aplikasi dan besutan pun akan tampil maksimal.(motorplus.otomotifnet.com)


PART BODY

Part body add on cukup ampuh memaksimalkan tampilan fisik tanpa perlu rombakan. Kini telah beredar part bodi add on berbahan fiberglass yang diproduksi massal, sehingga tinggal pasang tanpa perlu rawat inap. “Bentuknya mengacu pada Ducati 848 dengan option warna disesuaikan selera motobikers,” urai Je Jaidun alias JJ dari JJ Airbrush di Jl. Kayumanis Barat, No. 41, Matraman, Jaktim.

Asyiknya part ini telah dilengkapi braket beserta baut pengikat. “Selain itu dilengkapi pula dengan lampu LED di rem belakang, cover jok susun (seat cowl) dan cover samping tempat aki,” lanjut JJ seraya menyebut Rp 5,5 juta untuk part bodi add on yang dibeli secara paketan.

Tawaran part bodi add on juga dirilis Chips Motor, yang menyetak massal undertail, rear hugger, dudukan pelat nomor belakang, engine cover, kondom tengah tangki dan cover knalpot.

“Walau motornya masih indent, tapi permintaan part bodi add on mulai ramai,” ungkap Sumantri dari Chips Motor di Jl. Pos Pengumben Raya no. 33 C, Cileduk, Tangerang.

Motifnya pun cukup atraktif lewat efek carbon printing. Contohnya pada cover knalpot dan kondom tengah tangki. “Motif  itu diproduksi massal. Harganya pun bervariatif dan hanya dalam kisaran ratusan ribu,” imbuh pria asli Semarang, Jateng.

Pun begitu dengan Aim Motor Sport (AMS)  di  Sawangan, Depok. Di tempat ini ada buntut belakang Yamaha Byson yang sudah dilengkapi lampu LED.

“Memasangnya tanpa merusak bodi motor karena sudah dilengkapi dengan rumah lampu,” ujar Abdul Rahim, juragan AMS seraya menyebut biaya sebesar Rp 180 ribu.

AMS juga menjual fairing untuk Yamaha Byson. “Fairing ini meniru  Yamaha Fazer di India. Basisnya sama dengan Byson yang beredar di sini. Bahan baku fairing terbuat dari fiberglass berkualitas, sedangkan headlamp, windshield dan spion didatangkan langsung dari India. Nah untuk fairing kita menjual tanpa cat, alias sampai epoxy saja,” kata Aim.

Bnderol komponen ini Rp 2,5 juta. “Jika ada uang lebih, bisa pesan fairing Fazer original dari Yamaha India,” kata pria yang akrab disapa Aim ini.


 Bodi Set Add On
 Add on JJ Airbrush

 Buntut belakang: Rp. 3.5 juta
 Rear hugger : Rp 1 juta
 Sepatbor depan: Rp 500 ribu
 Engine cover: Rp 1 juta
 Desain airbrush optional: Rp 2 juta – Rp 3 juta
 Bodi set add on Chips Motor
 Undertail komplit (lampu LED, sen): Rp. 600 ribu 
 Undertail (stoplamp aftermarket): Rp. 400 ribu
 Spakbor kolong batman : Rp. 350 ribu
 Kedudukan pelat nomor belakang: Rp. 150 ribu
 Kedudukan pelat nomor depan: Rp. 100 ribu
 Cover knalpot carbon print: Rp. 550 ribu
 Cover tangki: Rp. 275 ribu
 Cover aki carbon print sepasang: Rp. 400 ribu
 Bodi Set Aim Motor Sport
 Buntut bodi belakang: Rp 180 ribu
 Fairing Model Yamaha Fazer: Rp 2.5 juta

KOMPONEN OPTIONAL

Meski Yamaha Byson sejatinya motor street fighter, tapi banyak juga yang ingin memasang side box atau hanya braketnya saja. Saat ini tersedia racikan Kios Baikerboi dalam dua tipe. “Tipe sliding dan non sliding,” kata Teguh Riandi, pemilik Kios Baikerboi di Jl. Percetakan Negara, Gg. Bacang, No. 256, Jakpus.

Jangan khawatir, dudukannya sudah diset khusus untuk Yamaha Byson, jadi tinggal pasang. Asiknya digaransi sampai 3 tahun dan bonus braket pelat nomor tadi. Selain itu tersedia pula braket pelat nomer depan.

Maklum posisi dudukan pelat nomor depan Yamaha Byson berada di atas headlamp dan dianggap mengganggu tampilan. Sehingga banyak yang memindahkan pelat nomor ke bawah headlamp menggunakan braket yang sudah dibuat khusus untuk Yamaha Byson.

Sentra aksesoris bernama Motor Kita juga menyediakan foot rest yang berfungsi sebagai pijakan kaki saat berkendara jauh “Foot rest ini juga mampu melindungi bodi motor saat terjatuh,” kata Radit konsumen Motor Kita yang sudah mengaplikasi di motornya.  Komponen Optional Kios Baikerboi

 Braket side boks sliding: Rp 750 ribu
 Braket side boks non sliding: Rp 600 ribu  
 Braket Pelat Nomor: Rp 40 ribu
 Komponen Optional Motor Kita
 Footrest: Rp 150 ribu

KOMPONEN PERFORMA MESIN

Mesin hanya 150 cc dengan pasokan karburator. Sudah terbayang akselerasi pas-pasan di putaran bawah dan menengah. “Seperti terengah-engah saat ‘lepas’ lampu merah,” terang Kiki yang baru menebus Byson warna putih.

Untuk memaksimalkan performa mesin dapat dirujuk versi jalan raya hingga rombakan ekstrem untuk balap. Bisa dibagi menjadi beberapa kriteria seperti sistem pengapian, internal engine parts, fuel supply hingga exhaust system. Tinggal sesuaikan dana dan kebutuhan karena komponen tadi bisa dipakai secara bersamaan maupun parsial.

SISTEM PENGAPIAN

Pada bagian ini, proses pembakaran yang diutak-atik. Lazimnya pemilik Byson akan mengincar kotak pengapian alias CDI (capacitive discharge ignition). Di pasar sudah tersedia 2 merek yakni BRT (Bintang Racing Team) dan Cheetah Power. Lazimnya CDI aftermarket, kotak pengapian ini menawarkan solusi untuk menggeser waktu pengapian.

Tak hanya itu, limiter juga ikut digeser agar kinerja pengapian tetap optimal hingga batas rpm yang lebih tinggi. BRT menawarkan CDI tipe Hyperband seharga Rp 500 ribuan dan I-Max yang lebih canggih.

Sementara Cheetah Power punya andalan dual band programmable yang dibanderol Rp 375 ribu. “Lengkap dengan kabel data dan CD software untuk instalasi kurva pengapian,” tutur Teguh Riandi dari Baikerboi.

Selain CDI, performa pengapian bisa didongkrak dari koil seperti milik Yamaha YZ125 atau Kawasaki KX125. Mau yang universal ada pilihan seperti Andrion XP-series, CLD atau Protech. Busi pun bisa bermain dengan ‘mata’ platinum atau iridium. Last but not least adalah bermain dengan perangkat elektronik seperti Zona-13 CDI Stabilizer atau APS Motomax dengan harga berkisar Rp 200 ribuan.



EXHAUST SYSTEM

Banyak yang mengklaim knalpot orisinal Byson menjadi dalang lemotnya tenaga di putaran bawah, akibat aplikasi catalytic converter. Sisa gas buang yang disaring terlebih dulu oleh sarang tawon ini menjadi penghambat. Alternatif selain membuang catalytic converter adalah mengganti knalpot.

Produk seperti Nobi 3Bold series bisa menjadi pilihan versi pabrikan yang dibanderol Rp 375 ribu. Tetapi bukan berarti knalpot custom stainless steel haram diaplikasi. Seperti Bysontium (Rp 572 ribu), 3D1 dan Azki Dr.Muffler yang dipatok Rp 600 ribuan. “Glasswool dan tabung digaransi hingga 3 tahun,” tutur Teguh Riandi, penjaja Bysontium.

Knalpot handmade Byson juga diracik Flash Custom Muffler (FCM), yang bisa dipesan sesuai selera. Misalnya knalpot stainless steel dengan pipa knalpot diameter besar dilego Rp 650 ribu. Kalau model carbon look dengan pipa besar dihargai Rp 750 ribu. Untuk model custom mulai dari harga Rp 800 ribu. “Kalau ada yang mau pesan karbon asli kita siap kok,” kata Yudi Badak dari FCM.



INTERNAL ENGINE PART

Bagi pemilik Byson yang ingin menu performa lebih advance, bisa lakukan ubahan pada internal engine parts alias jeroan mesin. Mau ganti camshaft agar waktu bukaan klep bisa lebih lama hingga naik kapasitas mesin dengan penggantian piston, juga sudah bisa dilakukan pada besutan berjuluk Lord of The Street ini.

Mengganti piston dengan diameter yang lebih besar bisa dilakukan lewat produk aftermarket seperti TDR, FIM atau piston moge standar yang memiliki pin piston sama. “Tinggal samakan lubang pin piston dan tinggi permukaan piston,” terang Michael dari MC Racing di Jl. Kebon Jeruk III, Jakbar.

Rentang harga produk piston sangat lebar, mulai dari Rp 175 ribu sampai Rp 1,2 juta. Tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan kantong. Sementara camshaft belum ada yang produksi secara massal. Sifatnya masih custom made dengan biaya bubut sekitar Rp 200 ribu. “Kalau sudah punya master yang jadi, tinggal copy dengan mesin,” tutur Mariasan Kocex dari JP Racing.

Sistem Pengapian   
      CDI BRT Hyperband      Rp 500 ribu
      CDI Cheetah Power       Rp 375 ribu  
      Koil YZ125     Rp 475 ribu
      Koil KX125     Rp 800 ribu
      Busi Platinum NGK     Rp 30 ribu
      Busi Irridium Denso     Rp 90 ribu
Exhaust System   
      Knalpot NOBI 3Bold     Rp 375 ribu
      Knalpot Bysontium     Rp 572 ribu
      Knalpot Dr.Muffler     Rp 600 ribu
      Knalpot Stainless steel FCM       Rp 650 ribu
      Knalpot Carbon look FCM     Rp 750 ribu
      Knalpot Custom FCM     Rp 800 ribu
      Knalpot R9     Rp 1.1 juta
Internal Engine   
      Piston FIM     Rp 175 ribu
      Piston Yamaha YZF     Rp 1.2 juta
      Piston TDR     Rp 350 ribu
      Camshaft (jasa copy)     Rp 200 ribu
      Per klep (sepasang)     Rp 300 ribu
      Per kopling set     Rp 400 ribu
Sistem Karburasi   
      Keihin PE28 (Japan)     Rp 650 ribu
      Keihin PE28 (Thai)     Rp 475 ribu
      Koso 28 (Taiwan)     Rp 350 ribu

Sumber
http://mobil.otomotifnet.com/read/2011/01/06/314792/51/12/Parade-Aksesori-Yamaha-Byson-Lebih-Lengkap-Hasil-Maksimal
Modif Yamaha Byson 2010, Byson Sport Racing Berotot
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Dari pabriknya, Byson sudah didesain memiliki bentuk otot sempurna! Pas diset sebagai motor petarung. Tidak begitu dengan Arif, si empunya motor. "Mau nuansa sport beraura racing. Konsen rombak bodi gabungan antara sport namun tidak menghilangkan ciri macho yang sudah ditawarkan Byson," buka Nur Iskandar yang biasa disapa Iis selaku modifikatornya.

Untuk itu, perlu perhitungan matang dalam penerapan konsep ini. Contohnya, Iis mengatur ulang desain bentuk agar sesuai tema. Maksudnya, Iis memakai garis lurus antara buntut belakang, tangki dan penempatan lampu depan. Sehingga tercipta bentuk sejajar dinamis.

Ini merupakan bentuk sesuai dengan penerapan arah modifikasi terbaik. "Sebab jika lampunya terlalu tinggi, secara bentuk visual malah akan terlihat kurang bagus," cuap modifikator yang mangkal di Jl. Raya Beji, (Depan Rektorat Unwiku), Karang Salam, Purwokerto ini.
Tentunya, setang tidak boleh terlalu tinggi. Aplikasi komponen limbah setang jepit Suzuki GSX 400 lawas jadi paduan paten. Walaupun memakai setang jepit, yang otomatis bagian depan seharusnya lebih menunduk. Namun, sokbreker depan yang memiliki postur tinggi membuat setang tetap terlihat jangkung. Mengakalinya, pria ramah ini menurunkan segitiga atas 5 cm agar lebih menunduk
Bukan perkara sulit dalam pemasangan, "Sebab diameter lubang setang jepitnya pas dengan diameter sok depan. Yang jadi pertimbangan justru harus memakai komponen orisinal sesuai diameter sokbreker. Sebab Arif butuh handling yang baik dengan komponen kuat. Karena motor ini rutin dipakai daily use sebagai anggota Pemda Temanggung yang berjarak sekitar 50 km," papar ayah dua putra ini.

Head lamp misalnya, memakai lampu depan variasi trail. Cuma cover lampunya sudah dibuang. Reflektor lampu langsung nempel pada congor depan yang memakai material fiberglass. Bentuknya dibuat lancip namun tidak terlalu full menyudut. Itu karena memang masih ingin tetap menonjolkan nuansa otot khas Byson. Lalu, bentuk sudut depan dibuat sedikit kaku dan juga rada kotak. (www.motorplus-online.com)


DATA MODIFIKASI

Ban depan: Corsa 100/70-17
Ban belakang: IRC 130/70-17
Lampu belakang: Variasi
Cat: Supergloss
1st Modification: 0813-9130-5758


SUMBER

Modif Byson, Begini Seharusnya Pabrikan?
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Keinginan Made Andy memiliki pacuan streetfighter terwujudkan sempurna. Hal ini bisa dipastikan ketika lelaki yang tinggal di Sanggau, Kalimantan Barat itu memboyong Yamaha Byson. Apalagi, si Petarung Sejati itu tampil lebih berotot setelah dimodifikasi.

Tapi soal penggarapan modifikasi, Made mengirim motor ini ke Berkat Motor (BM) di Tangerang, Banten. “Konsep yang diterapkan seperti yang ada di rubrik MOTOR Plus. Ya, konsep bolt-on. Jadi, tidak ada yang perlu dipotong bodi atau sasis,” bilang Rudi Gunawan, owner BM.


Mulai cover tutup aki letaknya di tempat duduk pengendara. Menurut Rudi, ‘baju’ asli Byson terlalu ramping. Bermodalkan fiberglass dia menambah bodi agar sedikit lebih mencuat keluar dengan tampilan agak menyiku. Begitunya bodi jadi terlihat sedikit lebih lebar.

Soal pemasangan, tentu tidak memotong cover yang lain. “Dudukan bautnya juga memakai cover tutup samping yang sudah ada. Jadi, benar tidak merusak atau bikin dudukan lagi. Kalau mau dibalikin standar juga bisa,” bilang pemilik workshop di Jl. Ciledug Raya No. 1, Kreo, Ciledug, Tangerang.

Tapi, biar mengisi kekosongan di sekitar bawah tangki, diputuskan untuk membuat deltabox. Selain itu, pemakaian part bodi ini juga memberi kesan Byson jadi lebih gagah. Mirip dengan desain Yamaha FZ1. Bodi ini dibuat dari fiberglass. Dan, dudukan baut mengambil tempat dari cover aki bagian bawah.

Masih mengusung konsep bolt-on, cover engine bawah juga dibuat pakai bahan yang sama. Tapi desain mengambil tema Dainese. So, bentuknya menampilkan garis-garis tajam. “Kalau bodi part ini, bisa juga dipakai untuk Yamaha V-ixion,” timpal ayah dua anak itu.

Makin menarik, coba sobat lihat bagian jok. Konsep single sitter juga coba ikut diterapkan. Tapi, lagi-lagi bolt-on. Lewat cover jok belakang, part dari fiberglass ini bisa dengan mudah untuk dilepas atau dipasang. Karena kinerjanya hanya menjapit sisi jok kiri dan kanan.


Gagah lagi, kedok depan usung desain KTM Duke. Pakai dua projektor, lampu dekat diisi HID. Oh iya, kedok dibuat ulang dari fiberglass! So, gimana si Byson berkulit dark silver ini? Begini kah seharusnya Byson yang dikeluarkan pabrikan?

KAKI-KAKI SUZUKI GSX-400

Ogah tanggung! Biar makin menguatkan kesan kekar, pelek standar Byson diganti pakai pelek milik moge Suzuki GSX 400. Padahal, pelek aslinya sudah cukup lebar. Tetapi rasanya belum puas jika pelek GSX yang punya lebar 3 inci (depan) dan 4 inci (belakang) itu nempel di Byson.

"Diameter pelek belakang juga pakai ukuran lebih besar. Yaitu, 18 inci. Sedang depan, tetap 17 inci,” bilang Rudi yang berusia 36 tahun itu.

Ada alasan lain juga kenapa pakai pelek GSX. Sebab, Made ingin pakai double disk untuk pelek depan. Bagian buritan juga enggak mau kalah! Sebab swingarm standar, kini tampil lebih kekar berkat casing dari fiberglass. Menurut Rudi, desain casing alias kondom lengan ayun itu mengambil desain dari Suzuki GSX 600 tipe K7. So, knalpot custom yang masih ditutup cover bawaan Byson mampu menambah kesan kekar sesuai konsep.(motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Battlax BT45 120/60-17
Ban belakang : Battlax BT45 150/70-18
Projektor : Honda CRV
Spion : PSM
Berkat Motor : (021) 935-17093


SUMBER
http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/02/18/316075/78/10/Modif-Byson-Begini-Seharusnya-Pabrikan
Modif Yamaha Byson, Rasa India
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Yamaha Byson itu memang lebih dulu hadir di India. Tapi, tentunya dengan nama yang berbeda. Di sini Byson kalau disana Fazer. Secara garis besar motor dengan nama yang berbeda ini mempunya bentuk dan spek yang hampir sama. Pada desain, Fazer memiliki fairing di depan yang membuatnya berbeda dengan Byson. Nah hal itulah yang coba diaplikasi oleh Abdul Rahim.

Kebetulan sekali, Rahim punya banyak relasi di India sehingga membuatnya gampang untuk mencoba bergaya ala Fazer di sini. "Banyak teman di sana, sehingga saya coba pesan satu set bodi Fazer yang tujuannya memang untuk coba meramaikan gaya Byson di Indonesia," katanya.
Setelah datang tentu saja enggak langsung bisa dipasang. "Sebab kan di Byson enggak ada dudukannya, sehingga harus membuatkan braket terlebih dahulu," kata Aim, sapaannya. Jika selama ini orang membuat braket ke  bodi dengan ngebor atau melubangi supaya nempel, maka pria satu ini melakukannya dengan cara berbeda.

"Pertama di bagian rangka yang akan ditempeli braket dilakukan semacam penambahan daging dengan cara dilas. Hal itu supaya rangka tidak ada yang rusak dan nantinya aman jika ingin dikembalikan standar," ungkap ayah satu anak ini.

Setelah tambahan 'daging' tadi dipasang, barulah dibor supaya braket bisa dibaut di sana. "Totalnya ada empat baut, semua untuk pegangan fairing tadi," cerita Aim lagi. Sementara untuk bagian bawah menggunakan baut ukuran 12, sedangkan pegangan atas baut 10.

Tidak hanya depan, lampu belakang sekarang juga sudah bukan yang original lagi. "Saya pilih punya lampu Kawasaki ZX 6 karena bentuknya yang berkesan modern," cerita warga Bojongsari, Sawangan, Depok ini.
Aim tetap enggak mau merusak bodi asli, makanya dia membuat bodi baru dengan fiber. "Itu menjadi rumahnya, setelah itu barulah kita masukin punya ZX tadi. Bodi asli tetap aman," tutup pria bertubuh gempal ini. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Bodi: Yamaha Fazer
Stop lamp: Kawasaki ZX 6
Spion: Fazer
Bodi belakang: Custom fiber
Aim: (021) 33325145


Sumber

Yamaha Byson Transformer From Oslo
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur

Sudah banyak modifikasi yang mengaku terinspirasi film Transformers. Mulai dari motor bebek, skubek sampai motor sport. Contohnya Byson dari Oslo alias Solo ini. Sang modifikator yang juga pemilik dengan yakin bilang kalau konsepnya Transformers. Masa?
Karena ingin mendapatkan bentuk baru, memang design bodi lah yang pertama disasar. "Karena motor baru, masih sayang juga jika harus rombak rangka. Karena itu hanya permainan bodi luar," pasti Andy Mardiono sang owner.
Target pertama adalah mengubah lampu. "Enggak perlu lampu dengan motor lain atau variasi, tinggal mengakali  covernya saja," kata ayah satu anak ini.

Bagi Andy, lampu itu ibarat muka si robot Transformers tadi. "Karena itu model cover menyerupai muka," kekehnya.

Lengkap dengan adanya bagian yang seperti kuping segala lho. Untuk rambutnya juga ada, yang dibuat menggunakan mika. Robot kok ada rambutnya?

Sayang di bagian ini pengerjaan masih sedikit kurang rapi. Hal itu bisa dilihat dari finishing pada bagian fiber. Begitu juga cat yang masih kurang rapi.

Sementara itu agar bodi tampak lebih besar, dibuatkan engine cover di bawah tangki. Tapi, sepertinya ini agak sedikit over, Bro, sehingga bodi motor malah seakan kedodoran. Awas mlorot!

Lengan ayun juga dibuat ulang dengan model banana atau model pisang. "Itu supaya mengimbangi sektor depan yang sudah jadi besar tadi," ucap Andy yang menurut MOTOR Plus memang ada benarnya.

Sedangkan langkah terakhir adalah memberikan aksen cutting stiker di sekujur bodi. "Tujuannya supaya semakin berkesan futuristik melalui media stiker," yakin pria yang mengusung nama Mudha All Concept (MAC) di Perumahan Wonorejo Indah, Jl. Mawar V, No. 1, Solo.  

Ada yang sedikit menggelitik saat memperhatikan bentuk bodi Byson ini sekarang. Khususnya pada bagian belakang dan juga jok. Konsep yang diterapkan masih menggunakan jok yang bisa dipakai buat boncengan, jadi enggak egois.

Hanya saja bentuk tempat duduk untuk penumpang di belakang kini sudah menjadi bulat. "Dibuat terpisah atau tidak menyatu dengan rider-nya. Sementara kalau bentuk bulat itu memang buat lucu-lucuan saja," cerita pria 27 tahun ini.

Melipir ke sektor belakang lagi. Cermati baik-baik ya mas bro atau mbak sist “Setengah bodi belakang sudah dibuat ulang pakai fiber. Sebagai pemanis, ikut dihadirkan lekuk bodi dinamis pada samping kanan dan kiri.


 DATA MODIFIKASI
Ban depan : IRC 120/70-17
Ban belakang: Swallow 160/70-17
Bodi: Custom
Swing arm: Custom
Knalpot: Nobi
Rem belakang: Ride IT
MAC: 0858-7982-3377


SUMBER
Modif Yamaha Byson, Koreksi Minimalis
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Banyak yang langsung jatuh cinta saat melihat Yamaha Byson dihadirkan oleh PT YMKI. Para penggemar motor tipe sport langsung menganggap bahwa secara desain dan tampilan inilah yang terbaik saat ini. Bagi Rudi Tanumihardjo itu ada benarnya, tapi belum perfect. "Makanya secara tampilan bodi, merasa perlu dilakukan sedikit koreksi," bukanya.

Koreksi yang dimaksudnya tadi lebih kepada menutupi kekurangan Byson di wilayah bawah. "Sebab dengan tangki yang besar tapi di bawahnya terkesan melompong karena hanya menyisakan mesin yang juga tidak terlalu besar," tambahnya.

Kalau selama ini beberapa bengkel sudah membuat engine cover maka itu juga dilakukannya. "Tapi, tidak hanya itu sebab kami membuat side cover di sisi kanan dan kiri," tambah pria berpostur tinggi kurus ini. Side cover ini sukses membuat wilayah sekitar mesin terlihat menjadi lebih penuh.

Untuk pemasangan beberapa bodi part ini tentu saja Rudi ogah jika harus merusak rangka atau bodi aslinya. "Sistemnya sangat gampang kok, knock down dan siap untuk dikembalikan pada tampilan standarnya," beber pria ramah ini.

Hal ini tentu saja menimbulkan kesan harmonisasi yang lebih baik. "Ada kesinambungan desain antara bentuk tangki dan wilayah bawah, saya yakin sentuhan seperti ini membuat Byson akan jadi lebih berkarakter," tambah ayah 2 anak ini.

Seluruh bodi tambahan tadi dibuat dari fiber, sehingga tidak terlalu berat. "Tapi, sedikit banyaknya pasti ada efek kepada bobot motor, makanya saya takut Byson ini jadi tambah memble aja performanya," cerita Rudi lagi.

Karena itu dia memilih melakukan pergantian CDI. "Saya pilih CDI yang gak ada limiternya, sehingga performanya akan lebih memuaskan,"tambahnya.

Tidak cukup sampai di situ, koil pun sekarang sudah bukan yang orisinal lagi. "Untuk koil rasanya lebih mantap setelah diganti punya Scorpio yang punya kode tipe 5BP," tukasnya.
Dengan upgrade pengapian seperti itu, tidak kalah segar dan lincah di jalan dengan motor lebih kurus.
DISC BRAKE MEGA PRO
Ada satu hal lagi yang menjadi impian para penunggu Byson saat belum dilaunching. Yaitu penggunaan disc brake di roda belakang. Tapi malah tidak ada. "Cupu rasanya kalau enggak pakai disc di belakang," kata Rudi.

Setelah diperhatikan dengan seksama, akhirnya diyakini memang lebih cocok jika menggunakan rem belakang New Mega Pro.

"Secara dimensi piringannya tidak terlalu besar sehingga masih terlihat wajar, selain itu untuk braketnya juga bisa menyesuaikan," cerita pria berkulit bersih ini.

Bisa dikatakan, Rudi menggunakan copotan dari New Mega Pro itu secara gelondongan. Mulai dari master rem, braket, kaliper sampai ke piringan. Satu paket, dong!

Saat pemasangannya tidak ada kendala berarti. "Hanya perlu sedikit coak bodi bawah untuk posisi master rem belakang," ceritanya.

Kelar mencoba dan terbukti memang menjadi lebih sip timbul juga ide memasarkannya. "Saya yakin pasti banyak pengguna Byson yang ingin pakai disc di belakang, tapi saya masih riset harga," kekeh Rudi. Ujung-ujungnya duit juga



DATA MODIFIKASI
Bodi part: Custom
Head lamp: Custom projector
CDI: Cheetah
Koil: Scorpio
Rudi: 0816-7755-27

SUMBER
Mix And Match Part Performa Yamaha Byson 150
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Beberapa pemilik Yamaha Byson memang mengeluhkan performa motorport berwajah garang ini. Solusinya tentu upgrade lewat aplikasi beberapa part performa perlu dipertimbangkan. Ada beberapa part yang bisa digunakan, diantaranya yaitu otak pengapian alias CDI. Pengujiannya di atas mesin dyno Dynojet 250i buatan Amerika milik BRT di Cibinong, Jabar.

CDI yang diuji buatan BRT sendiri tipe Power Max Hyperband seharga Rp 475 ribu. Hasil pengukurannya tentu dibanding kondisi standar. Byson yang kami gunakan dalam pengujian baru menempuh jarak 350 km. Didapat tenaga maksimumnya 10,35 dk di putaran 7.750 rpm. Sedang torsi puncak 8,34 lb.ft (11,3 Nm) di 5.000 rpm.

Sementara saat CDI-nya ditukar pakai produk BRT, max powernya langsung terkerek jadi 10,87 dk (naik 0,53 dk) di 7.500 rpm. Sementara torsi puncaknya naik jadi 8,70 lb.ft (11,79 Nm) di 4.600 rpm. Grafik dyno menunjukkan peningkatan tenaga mau pun torsi terjadi sudah sejak 3.500 rpm. Bahkan terus terkoreksi hingga 10.000 rpm.



Oh iya, di saat yang sama, kami juga menjajal knalpot aftermarket merek Nob1. Peranti saluran gas buang Rp 375 ribu ini jenisnya free flow. Tadinya mau kami komparasi dengan produk lain. Tapi karena saat ini knalpot produk massal untuk Byson baru ada Nob1, jadi kami uji sendirian.


 
Hasilnya, power maksimum motor sport berlambang Garputala ini berhasil dikerek jadi 11,17 dk (naik 0,82 dk) yang dicapai di putaran 7.500 rpm. Sedang torsi puncaknya terkoreksi jadi 8,45 lb.ft (11,45 Nm) di putaran 6.000 rpm.

Sayang, meski peak power melonjak cukup baik, grafik tenaga mulai putaran bawah hingga 5.700 rpm terjadi penurunan dibanding standar. Di putaran 8.800 rpm juga tampak menurun. Begitu pula dengan grafik torsinya.

“Sepertinya butuh setting ulang karburator kalo pakai knalpot ini. Ukuran spuyer, terutama pilot jet kayaknya minta dinaikkan,” komentar Tommy Huang, bos BRT yang bertindak sebagai operator dyno.

Lalu kami juga coba mengombinasi knalpot Nob1 ini dengan mengganti CDI pakai produk BRT Power Max Hyperband yang sebelumnya diuji terpisah. Hasilnya, peak power makin terkoreksi lagi jadi 11,32 dk  di 7.500 rpm. Sedang torsi maksimum naik jadi 8,55 lb.ft (11,59 Nm) di 6.200 rpm.

Namun tetap saja grafik tenaga maupun torsi di putaran bawah hingga hingga 5.800 rpm mengalami penurunan. Tapi di putaran atas tidak lagi terjadi penurunan bila dibanding kondisi standar maupun ketika hanya menggunakan knalpot saja.
Uniknya, meski peak power pada grafik tenaga maupun torsi saat pengujian CDI BRT dengan knalpot standar tidak sebagus waktu knalpot diganti pakai produk Nob1, namun koreksi tenaga maupun trosinya terus terjadi di tiap putaran hingga putaran atas. Malah kenaikkan torsi maksimumnya sudah terjadi sejak putaran bawah.

Efek yang akan didapat dari peningkatan tenaga maupun torsi seperti itu, entakan tenaga mulai putaran bawah sampai atas saat berakselerasi akan lebih terasa dibanding kondisi standar. Itu tanpa melakukan setting ulang pada karburator lo.

“Pemakaian knalpot Nob1 sebenarnya bisa juga dibikin seperti itu, malah peningkatan tenaga dan torsi akan lebih baik lagi. Dengan catatan, mesti dibarengi dengan menyetting ulang karburator sesuai permintaan mesin. Biar grafik tenaga maupun torsi yang turun di putaran bawah tadi bisa diperbaiki,” saran Tommy.



Hasil Pengujian Dyno             
Kondisi                                  Max power                             Max Tourqe
Standar                                 10,35 dk / 7.750 rpm              11.3 Nm / 5.000 rpm
Cdi BRT + Knalpot std         10,87 dk / 7.500 rpm              11,79 Nm / 4.600 rpm
Cdi BRT + Knalpot Nob1     11,32 dk / 7.500 rpm              11,59 Nm / 6.200 rpm


SUMBER
http://motorplus.otomotifnet.com/read/2010/11/30/313876/211/27/Mix-And-Match-Part-Performa-Yamaha-Byson-150
Trik Upgrade Performa Yamaha Byson Dengan Part Plug n Play
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Penampilan Yamaha Byson emang membius motormania. Ibaratnya, sosok pria yang doyan fitness! Namun beda jika bicara performa, dikeluhkan masih kurang nendang. Terutama akselerasi yang terlalu smooth, top speed juga kurang.

Namun hal itu bukan perkara sulit buat dipecahkan. Bisa dicari solusinya, tentu lewat upgrade performa. Salah satu yang sudah membuktikan Mislan, warga daerah Cipulir, Kebayoran Lama, Jaksel.

Cukup dengan komponen yang tergolong plug n play, tenaga yang dikatrol lumayan banyak lho, putaran mesin bisa didongkrak tinggi. Sehingga akselerasi dan top speed meningkat. Wuih mantap, dong!

Mau bukti? Nih dari hasil pengukuran dynamometer milik Ultraspeed Racing (UR), di Jl. HOS Cokroaminoto No.42, Ciledug, Tangerang. Setelah dioprek jadi 13,34 dk/8.654 rpm, torsi 12,6 Nm/5.900 rpm.

Power naik 1,78 dk dan torsi 0,1 Nm dari kondisi standar yang hanya 11,56 dk/7.708 rpm dan 12,5 Nm/5.611 rpm. Nah koreksi tenaga terbaca jelas dari pencapaian peak power, di mana tercapai pada rpm lebih tinggi. Dan jika standar setelah peak power tenaga langsung turun tajam, hasil modif masih manteng hingga 11 ribu rpm.

Mau tahu ubahan detail yang dilakukan Bie Hau dari bengkel Samudra Jaya Motor (SJM) ini? Yuk kita bedah


KNALPOT

Komponen yang banyak dituding bikin tarikan berat salah satunya knalpot, lantaran terlalu banyak lekukan dan kotak seperti tembolok berisi catalytic converter berhambatan besar. Fungsinya sih, sangat baik, untuk mengurangi emisi gas buang.

Nah gantinya knalpot tipe free flow bikinan Stanlee. Bahannya stainless steel dibikin tak banyak lekukan dan hambatan. Efeknya gas buang jadi mengalir lancar, tarikan pun makin cepat.


PENGAPIAN

Pengatur pengapian diandalkan bikinan BRT tipe terbaru, Power Max Dual Band. Paling kentara limiter-nya terkoreksi jauh lebih tinggi, mencapai 12.000 rpm, standarnya 9.500 rpm sudah brebet. Nah dari sini kentara nafas mesin lebih panjang, top speed meningkat.

Tak cukup itu, koil pakai yang berkemampuan lebih tinggi, Blue Thunder. Dan masih ditambah koil booster bikinan APS Motomax, tipe Strom. “Bantu pengapian dari bawah hingga atas,” promo mekanik di Jl. Joglo Raya No. 230, Jakbar ini.


KARBURATOR

Pengabut bahan bakar bawaan motor tipe vakum, bagi speedgoers dianggap kurang responsif. Makanya dilengserkan, gantinya model skep konvensional yaitu Keihin PE 28. Pemasangan tetap pakai intake manifold standar, “Hanya karetnya pakai slang radiator mobil,” terang Bie Hau.

Paduannya filter minim hambatan bikinan Koso. Nah setelah diseting, spuyernya ketemu kombinasi pilot jet 42 dan main jet 11

SUMBER
http://www.mymotobike.com/q_and_a/read_question/771/Bagi_Trik_Upgrade_Performa_Yamaha_Byson_Dengan_Part_Plug_n_Play__Dong_
Upgrade Akselerasi Yamaha Byson
Minggu, Februari 27, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
Hasil test ride yang dilakukan oleh rekan-rekan bloggers beberapa waktu lalu umumnya sepakat bahwa performance/akselerasi Yamaha Byson masih di bawah sedikit dari Honda New Mega Pro (NMP). Walaupun berdasarkan data teknis yang ada, seharusnya akselerasi Byson berada di atas NMP.

Apa sebab ? Menurut pengamatan saya yang awam, penggunaan catalytic converter pada knalpot dan aplikasi ban “gambot” pada Byson-lah penyebabnya.

Ada dua cara sederhana untuk meng-upgrade performance Byson tanpa biaya yang mahal, paling tidak bisa sejajar dengan akselerasi NMP, mungkin lebih.




Pertama adalah dengan membuang catalytic converter pada knalpot Byson.

Penggunaan catalytic converter sudah pasti akan berpengaruh pada performance yang tidak maksimal pada Byson karena mengakibatkan tendangan balik (back pressure) dari hasil pembakaran, ujung-ujungnya performance tidak maksimal.

Menurut Muhammad Abidin, Asisten GM Servis YMKI, “memotong/membuang catalytic coverter atau mengganti dengan knalpot racing sangat tidak dianjurkan”, ujarnya. Lebih lanjut dijelaskan, “penempatannya (catalytic converter) khusus di center of gravity motor, agar balancing sempurna, kalau dipotong/dibuang akan berpengaruh pada kestabilan Byson”.

Sebenarnya sah-sah saja membuang catalytic converter, namun dibalik itu, penggunaan catalytic converter adalah bentuk kepedulian YMKI terhadap lingkungan. Sebagai teknologi untuk mengurangi emisi gas-gas berbahaya dari mesin yang menggunakan BBM jenis premium, yaitu dengan cara mengkonversi HC dan CO yang dihasilkan dari pembakaran mesin menjadi H2O dan CO2 yang tidak terlalu berbahaya pada lingkungan sebagaimana standar Euro 2.



Kedua adalah dengan mengganti gear depan atau belakang (pada velg).



Penggunaan ban “gambot” dengan ukuran ban depan 100/70-17 dan belakang 120/70-17 disinyalir penyebab akselerasi Byson tidak maksimal.

Pengalaman waktu memakai Yamaha Vixion (2007-2009), rasanya kurang pede dengan ukuran ban bawaan “pabrik” yang mengaplikasikan ban ukuran depan 80/90-17 dan belakang 90/90-17. Untuk menambah rasa pede, velg dan ban saya ganti dengan produk after market yang lebih lebar. Velg merk power depan ukuran 3,5″ dan belakang 4,5″ berikut ban Metzeler Lassertec depan ukuran 110/70-17 dan belakang ukuran 130/70-17 rasanya sempurna.     Hasilnya…. beuuuhhh….. motor jadi berat, akselerasi “ngos-ngosan”… 

Karena tidak mau “ngulik” sektor mesin ataupun parts lain yang berhubungan dengan mesin atau kelistrikan. Akhirnya cari solusi lain, yaitu dengan mengganti gear belakang, atau mengganti gear depan.

Pada Vixion, gear standar bawaan “pabrik” adalah ukuran belakang 42 dan ukuran depan 14, sehingga kalau dibagi (gear belangan 42 : depan 14) akan menghasilkan angka 3, ini adalah rasio standar ideal performance-nya Vixion, seperti perhitungan di bawah.


Berpatokan pada angka 3 (tiga) di atas, karena ingin meningkatkan akselerasi, walaupun dengan kosekwensi top speed berkurang, maka perhitungan gear rasio-nya adalah :


Pada waktu itu, saya pilih memakai gear belakang Scorpio Z karena pertimbangan “plek-ketiplek” dengan Vixion, sedangkan kalau memakai gear depan Ninja RR, repot harus ke tukang bubut, kudu buat lobang pengunci. 

Yups…. pengalaman saya dengan Vixion ini mungkin bisa diaplikasikan untuk meningkatkan akselerasi Yamaha Byson nanti. 


SUMBER
Oya….. sebenarnya ada cara lain untuk meningkatkan performance Byson, yaitu dengan mengaplikasikan parts racing, seperti CDI, karburator dan lain-lain. Argh….. itu sih cerita lain.

MY BYSON PART 1
Rabu, Februari 23, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
My BYSON Brojol digarasiku pada 12-Oktober-2010 dengan merogoh tabungan Rp.20.500.000, Harga cashnya sih cuma 19,9 Jt berhubung ingin cepat ya harus pakai pelicin (oli kalie he3x) makanya saya dumping Rp.600 rb, waktu itu stock sangat terbatas makanya harga tidak bisa nego dan warna cuma dikasih 2 pilihan saja abu-abu dan putih. Setelah 2 minggu test ride baru turun plat nomer ya walaupun terlambat 3 hari tepatnya 29 Oktober 2010. setelah test ride selama 2 minggu saya merasakan bahwa motor bysonku tidak bertenaga pada putaran bawah maupun  pada nafas akhir, kenapa saya bilang seperti itu karena setelah 2 minggu test ride dan indikator menunjukan 400 km saya ajak motor bysonku touring jakarta-serang menempuh jarak +/- 130 km dengan waktu 2,5 jam. kalau dibandingkan langsung dengan motorku yang lain GL-PRO Tahun1995 korek harian (Karbu PE28, Seher dan kruk AS punya Tiger, Dll) dan SATRIA FU-150 tahun 2010 Standar abis ternyata YAMAHA BYSON milik aku hanya bisa menangis.hiks hiks hiks...

                               HONDA GL-PRO 1995

Motor kesayangan ku ini sudah 4 X menemani saya pulang kampung Jakarta-Purworejo, Subang, Bandung, tasik, pelabuhan ratu, sukabumi, anyer, cianjur dan banyak lagi deh kalau disebutin satu persatu.
Tapi sayang GL-PRO kesayanganku yang sudah menemaniku sejak tahun 2002 (hibah dari ayahku yg sudah menggunakan dari 1995) harus lengser digantikan Yamaha Byson pada November 2010


                                           Suzuki SATRIA FU150 2010

Nah kalau yang ini bebek tercepat di indonesia pada saat ini, 0-110 km/j mudah banget diraih dan bahkan pernah saya test ditrek panjang di PANTURA speed yang saya dapat 130 Km/j itu handle gas belum mentok, berhubung boncengin ISTRI ya jadi ga brani lebih dari itu...
BTW SATRI FU150 saya sudah cukup berpetualang ke serang 5x dan saya ajak pulang kampung 1X.
Nih foto SATRIA ku lagi istirahat...


                                          
                                         YAMAHA BYSON 2010

Nah yang ini baru motor yang sekarang saya pakai untuk beraktifitas sehari-hari. saya pertama naksir sama nih motor pada awal 2009 pada web yamaha india dengan nama FZ-Series, asli pertama saya melihatnya langsung naksir dikarenakan bodynya yang macho abis, baru Oktober 2010 baru bisa saya dapatkan....
nih BYSON standar pabri yang aku punya...







TOUR @ SERANG
Sudah 4X BYSON ku ke serang dan 2X ke pantai Anyer & pantai matahari







Setelah 3 Bulan pemakaian baru saya sedikit merubah segi penampilan dan performa.
Nih fotonya...



Nih rubahan pakai knalpot NOB1 3 BOLD,, murah meriah euuy.. dengan harga kisaran Rp.375
paling murah untuk knalpot byson


Knalpot NOB1  yang sudah terpasang


Knalpot NOB1 DB Power Tidak terpasang... suaranya ngabass bulat, berisik banget kalau lewat gang.
 

DB Killer Knalpot NOB1, Fungsinya meredam suara Knalpot yang berisik


Pasang DB Killer tidak susah, tinggal masukin DB Killer ke lubang knalpot lalu pasang besi pengaitnya...


Sedangkan yang satu ini busi sudah diganti dengan DENSO IRIDIUM + 9 POWER..


Kalu yang satu ini sudah di tambah VISOR kepunyaan Honda Tiger dan plat nomor pindah kebawah


Setelah melakukan upgrade 3 komponen performance yaitu Knalpot NOB1 3BOLD, Busi DENSO IRIDIUM dan 9POWER MY BYSON limiter-nya terkoreksi sedikit lebih tinggi, mencapai 10.000 rpm dan tarikan menjadi lebih ringan, standarnya 9.500 rpm sudah brebet dan tarik terasa berat .  Nah jika dilihat dari segi 3 komponen tadi kentara nafas mesin lebih panjang, Speed sedikit meningkat  0-100 Km/j juga didapat lebih cepat. Berhubung saya masih menggunakan Premium dan digunakan untuk kerja sehari-hari di Jakarta yang traficnya heavy MY BYSON mengkonsumsi bahan bakar sekitar 1 liter untuk 35 Km, saya merasa untuk saat ini cukup puas, mungkin lain cerita jika saya menggunakan pertamax atau shell yang oktannya lebih tinggi ketimbang premium.

Untuk kedepannya mungkin saya akan menambah part lainnya seperti mengganti gear belakang menjadi 42 lebih besar dari standarnya 40 or ganti gear depan menjadi 13 lebih kecil dari standarnya 14, Karburator PE 28 minimal keluaran thailand dan terakhir CDI RACING, untuk CDI RACING baru 2 merek yang tersedia dipasaran yaitu BRT dan CHEETAH POWER... sedangkan untuk mesin untuk saat ini tidak akan dikutak-katik dengan alasan kenyamanan...
Untuk Body Part saya sih tidak mau neko2 cukup beberapa sektor saja yang ingin saya rubah dan kebetulan pas browsing2 eh ktemu deh... nih gambar tamapak dari samping




Nah kalau ini dari samping kanan depan. Itupun kalau dana untuk urusan dapur sudah terpenuhi.




Ternyata punya yamaha Byson mengasikan, aslinya performanya kurang responsif tapi sekarang sudah banyak part pendongkrang performance, sedangkan body walau sudah macho tapi masih bisa kita tingkatkan lagi aura kejantanannya. untung saja saya ga beli saingannya... pasti nyesel deh wong susah dimodifnya BODY or Performanya, btw teman2 ku yang ada didaerah pada pusing tentang persoalan klasik motor yamaha yang baru di lounching yaitu INDENT yang terlalu lama.... plase dong yamaha..........

Untuk tahap berikutnya saya cuma bisa bilang wait & seeee......

YAMAHA BYSON / FZ16 SERIES
Rabu, Februari 23, 2011 | Author: Sabudhi Alviannur
LOGO BYONIC




           ALL ABOUT YAMAHA BYSON

FZ1, Inspirasi kelahiran LORD OF THE STREET "BYSON"


 BYSON/FZ-S SILVER



 BYSON/FZ-Series BW




 BYSON/FZ-Series Yellow/Blue




BYSON/FZ-Series Yellow/Black


BYSON WHITE BLUE ROSSI


BYSON ROAD RACE



BYSON PUTIH MODIFIKASI


BYSON/FZ-S Yellow


BYSON/FZ-S RED


BYSON/FZ-S White


BYSON WHITE


BYSON tampak belakang



BYSON/FZ-S ORANGE



BYSON/FZ  GOLDRED


Byson R15  blue


Byson R15  red


Byson R15  Silver


Byson R15  Yellow


Byson/FZ Modifikasi with Fairing RED


Byson/FZ Modifikasi with Fairing GREEN


BYSON/FZ Standar Green




BYSON/FZ Biru Muda




Naked BYSON/FZ Series




            SPESIFIKASI    

DIMENSI.

Panjang x Lebar x Tinggi  :  2.075mm x 780mm x 1.045mm
Jarak Sumbu Roda  :  1.334 mm
Jarak Terendah ke Tanah  :  160 mm
Tinggi Tempat Duduk :  790 mm
Berat Isi : 137 kg
Kapasitas Tangki Bensin  : 12 Liter

MESIN

Tipe Mesin  :  4 Langkah, SOHC, 2 Klep, Berpendingin Udara
Jumlah / Posisi Silinder  :  Cylinder Tunggal / Tegak
Volume Silinder  :  153 cm3
Diameter x Langkah  :  58.0 x 57.9 mm
Perbandingan Kompresi  :  9.50 : 1
Daya Maksimum  :  13,73 PS / 7.500 rpm (10,1 kW / 7.500 rpm)
Torsi Maksimum  :  13,6 Nm / 6.000 rpm
Sistem Starter  :  Electric Starter dan Kick Starter
Sistem Pelumasan  :  Basah
Kapasitas Oli Mesin:Total  :  1,2 Liter / Penggantian Berkala : 1,0 Liter
Tipe Karburator  :  (MIKUNI) BS26 x 1
Tipe kopling  :  Basah, Kopling Manual
Tipe Transmisi  :  5 kecepatan (1-N-2-3-4-5)  


RANGKA


Tipe Rangka  :  Diamond
Suspensi Depan  :  Teleskopik
Suspensi Belakang  :  Suspensi Monocross
Ban Depan  :  Tubeless 100/80-17M/C 52P
Ban Belakang  :  Tubeless 120/70-17M/C 58P
Rem Depan  :  Cakram
Rem Belakang  :  Tromol


KELISTRIKAN


Sistem Pengapian  :  DC C.D.I
Battery  :  YTZ4V 12V / 3 Ah (MF Battery)
Tipe Busi  :  NGK / CPR 8EA-9


Sumber
http://www.yamaha-motor.co.id/byson/specification

Udahan dulu tuk hari ini,,, kerjaan lg banyak jd ngeBLOGnya lanjutin ntar lg... itu juga kalau sempet.